Minggu, 15 November 2015

AKSI TERORISME MEMUNCULKAN ISLAMPHOBIA ATAU SEBALIKNYA?


            Jumat (13/11/2015) dunia kembali dikejutkan oleh kejadian di Paris, Perancis dimana telah terjadi berbagai serangan teroris di enam titik yang telah menewaskan setidaknnya lebih dari 150 orang. Total enam insiden terorisme terjadi di Paris dalam waktu yang hampir bersamaan yaitu serangan di stadium di tempat konser Bataclan, pemembakan di dalam restoran di Rue Bichat, kemudian didekat Stadion Stade De France dimana sedang berlangsung pertandingan persahabatan Jerman dan Paris. Korban terbesar berada di Stadium tempat konser di Bataclan dimana 112 orang tewas saat seprang bersenjata senapan otomatis memberodong penonton yang sedang menyaksikan aksi panggung band Amerika, pelaku juga menyandera sekitar 100 orang. Sampai saat ini pihak keamanan Paris masih menyelidiki aksi terorisme yang sebelumnya belum pernah terjadi di Paris ini. Salah seorang korban selamat di dalam gedung konser mengatakan bahwa sebelum menembak, para pelaku mengakatan “Allahu Akbar”(www.internasiona.republika.co.id, 2015).
            Kejadian ini kembali mengingatkan dunia akan aksi terorisme di New York dimana gedung WTC dibom dan menewaskan 3.000 jiwa pada tanggal 11 September 2001. Kejadian di Paris ini kembali mengantarkan masyarakat dunia untuk menoleh kepada masyarakat Muslim. Memang sampai saat ini belum ada klarifikasi dari pemerintahan Paris mengenai siapa dalang dibalik serangan beruntun yang sangat menggemparkan duni saat ini. Namun berdasarkan keterangan saksi selamat dapat kita simpulkan sementara bahwa masyarakat dunia saat ini nampaknya telah bersikap waspada kepada masyarakat muslim. Tidak mengherankan karena kejadian ini pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat. Namun hal perlu ditekankan untuk kesekian kalinya adalah Islam bukan agama teroris, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menyakiti atau bahkan membunuh sesama manusia. Islam memang menyerukan umat muslim untuk melakukan jihad, namun apa yang dilakukan oleh teroris yang mengatasnamakan jihad untuk Allah adalah salah.
            Bahkan dalam sebuat Hadist telah dijelaskan pelarangan membunuh sesama manusia (www.alquranalhadi.com, 2015), dalam Al Quran Surat Al Isra’ 17 : 33 yang berbunyi
وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ ۗ وَمَن قُتِلَ مَظْلُومًا فَقَدْ جَعَلْنَا لِوَلِيِّهِۦ سُلْطَٰنًا فَلَا يُسْرِف فِّى ٱلْقَتْلِ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ مَنصُورًا
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.
Juga dalam Al Quran Surat Al Furqan 25 : 68 dimana:
وَٱلَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),
Apapun yang telah dilakukan teroris dengan melakukan bom bunuh diri, pemembakan terhadap ‘innocent people’ dan kegiatan merugikan lainnya adalah salah dimata hukum apalagi dimata agama. Namun yang perlu dipahami adalah kita juga harus tahu sudut pandang teroris dengan mengetahui bagimana mereka bisa terbentuk. teroris terbentuk akibat masalah psikologi, ekonomi, politik, agama dan masalah sosial. Dalam masalah psikologi, mereka dipengaruhi oleh masalah-masalah dalam diri mereka dimana mereka merasa marah atau frustasi dalam menghadapi masalah, maka solusi yang mereka dapatkan adalah dengan cara kekerasan, bunuh diri dan lain sebaginya. Dalam masalah ekonomi, politik, agama dan sosialpun yang berasal dari manusia dimana pada dasarnya manusia ingin bebas dan memiliki propertinya sendiri. Jika ada deskriminasi antar manusia dengan negara, kemiskinan yang ekstrim, dan negara yang dianggap lemah dalam menyelesaikan masalah, kemudian mereka dapat dengan mudah melancarkan aksi terorisnya.
Berdasarkan apa yang telah terjadi saat ini di Paris atas aksi teror ini, maka penulis mencoba menghubungkan dengan gerakan Islamphobia yang terjadi di tahun 2015 ini. Sebelumnya di Jerman, kelompok anti-Islam, PEDIGA melakukan demo anti-Islam atau anti-Islamisasi.
Di Eropa secara umum sedang meningkat gerakan anti-Islam. Berbagai tindakan kekerasan terhadap pusat kegiatan orang Islam sering terjadi terutama sejak 2012. Penyerangan terhadap masjid seperti melempar dengan telur, menempatkan kepala babi di pintu dan dalam masjid, pembakaran masjid terjadi di berbagai kota di negara-negara Eropa, seperti di Inggris, Belanda, Belgia, Prancis, Jerman, Austria dan Denmark. Terakhir pembakaran masjid di kota Eskilstuna di Swedia pada 25 Desember 2014. Padahal, negara-negara Scandinavia, yaitu Denmark, Swedia dan Finlandia selama ini terkenal sebagai negara yang sangat toleran dan menerima banyak pengungsi dan imigran (www.satuharapan.com, 2015).
Maka menurut penulis, hal ini merupakan suatu tindakan balasan atas apa yang dialami sesama muslim yang menjadi korban tersebut. Mungkin, menurut penulis, hal ini merupakan saat yang dinantikan untuk membalas ketidakadilan yang selama ini mereka rasakan selama menjadi minoritas. Namun ini menjadi peringatan pula untuk pemerintah untuk bertindak adil kepada kelompok minoritas supaya hal ini tidak terjadi lagi dan memakan banyak korban tidak bersalah. Dan juga sebagai umat Islam seharusnya kita dapat meredap emosi kita dalam menghadapi suatu masalah dengan selalu beristighfar dan selalu memaafkan kesalahan orang kepada kita. Jihad memang diperintahkan kepada manusia, namun membunuh orang-orang yang tidak bersalah sangat diharamkan. Namun kembali lagi dimana lingkungan mempengaruhi bagaimana kita berperilaku juga bagaimana agama dapat menjadi tameng kita didalam posisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Semoga kita selalu berada dilindungan Allah SWT. Aamiinn.
Sumber
Gonda Yumitro, Terrorist, Islam and International Politics, dalam  http://gondayumitro.staff.umm.ac.id/, diakses pada tanggal 27 September 2015 pukul 21.23
Satu Harapan, Gerakan Anti-Islam di Eropa Meningkat, dalam http://www.satuharapan.com/read-detail/read/gerakan-anti-islam-di-eropa-meningkat diakses pada 6 November 2015 pukul 18.17
Al Quran Al Hadi, Indeks Tematik Al Quran, dalam http://alquranalhadi.com/kajian/tema/1377/larangan-membunuh diakses pada 15 November 2015 pukul 17.10
Republika, Jumlah Korban Teror Paris Terus Bertambah, 153 Tewas, dalam http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/global/15/11/14/nxs7i7377-jumlah-korban-teror-paris-terus-bertambah-153-tewas diakses pada 15 November 2015 pukul 16.23



Tidak ada komentar:

Posting Komentar