Minggu, 15 November 2015

ISLAMPHOBIA DAN HAM JELANG PEMILU 2016 AMERIKA SERIKAT


            Tahun 2015 ini merupakan tahun terakhir Presiden Barack Obama memimpin Amerika Serikat. Tahun ini pulalah merupakan awal pesta demokrasi di Amerika Serikat. Para kandidat calon presiden semakin gencar mendekati masyarakat untuk mendapatkan simpati dari para pendukungnya. Sebagai negara pensetus demokrasi dan negara demokrasi terbesar didunia, pemilu yang akan diadakan pada tahun 2016 mendatang akan menjadi pemilu yang besar. Namun banyak peristiwa yang mengkhawatirkan sejak awal tahun 2015 ini dalam menyambut pemilu 2016. Pemilu 2016 mendatang dinilai membangkitkan kembali Islam phobia dikalangan masyarakat Amerika Serikat. Sejak awal tahun saja banyak muslim Amerika menjadi korban atas dasar Islam phobia.
            Islam phobia bukan merupakan hal yang baru di Amerika Serikat. Islam phobia di Amerika Serikat bermula pasca terjadinya peristiwa 11 September 2001. Dari sinilah awal anti-muslim dari warga Amerika dan masyarakat dunia yang menganggap Islam berbahaya. Bahkan dalam banyak kejadian, dalam memasuki kawasan Amerika di bandara contohnya, semua yang berhubungan dengan Islam diperlambat untuk masuk ke wilayah Amerika. Mulai dari nama Islam seperti Muhammad dan lain-lain kemudian orang yang berjubah besar, berkerudung syar’i, berjenggot dan lain sebaginya akan diperlambat pelayanannya. Kemudian ini diikuti oleh sebagian besar negara dunia dengan melakukan hal sama dimana presiden AS saat itu menyerukan untuk bergabung dengan mereka atau dengan teroris “either you are with us or you are with terrorist”. Sejak saat itu Islam identik dengan teroris yang membahayakan bagi barat.
Agama Islam di Amerika adalah agama yang banyak diperbincangkan hingga diseluruh penjuru dunia. Namun semakin Islam dipertentangkan, semakin Islam berkembang pesat yang akhirnya banyak pula yang anti terhadap agama Islam hingga memberi julukan bahwa Islam adalah agamanya para teroris. Trust Runnymede, seorang Inggris mendefinisikan Islamofobia sebagai "rasa takut dan kebencian terhadap Islam secara berlebihan dan oleh karena itu juga pada semua orang Muslim," dan pernyataan tersebut tenyata secara luas telah diterima sebagai definisi Islam Phobia (Samir Amghar, 2007: 144), dinyatakan bahwa hal tersebut juga merujuk pada praktik diskriminasi terhadap Muslim dengan memisahkan mereka dari kehidupan ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan bangsa. Itulah sebabnya, hubungan Muslim dengan penduduk asli mengalami gangguan harmonisasi dikarenakan banyak diantara mereka yang takut, bukan hanya takut kepada agamanya saja tapi bahkan takut kepada orang Muslim itu sendiri dan memang gejala tersebut semakin meningkat. perbedaan kultur yang mencolok pun menjadikan terciptanya jarak antara komunitas Muslim dan penduduk pribumi.
            Islamfobia semakin nampak akhir-akhir ini di Amerika Serikat menjelang pemilu 2016 mendatang. Diawali dengan peristiwa penembakan pria Irak hingga tewas, penembakan atas perselisihan lahan parkir hingga tiga mahasiswa tewas dan lain-lain (www.viva.co.id, 2015). Tidak kalah menggemparkan dunia dan perhatian masyarakat Islam ketika seorang anak keturunan Palestina, Ahmed Muhamed ditangkap karena dicurigai telah memiliki bom rakita. Kemudian peristiwa menghebohkan lainnya datang dari kandidat calon presiden AS, Ben Carson yang menyatakan sikap anti-muslimnya dalam sebuah wawancara. Ia menyatakan bahwa Islam tidak konsisten dalam konstitusi dan tidak yakin jika muslim bertanggung jawab atas bangsa tersebut seperti tanya jawab berikut ini:
Chuck Todd : Should a president’s faith matter? Should your faith matter to voters?
Ben Carson : Well I guess it depends on what that faith is, if it is inconsistent with the values and the principles of America then of cource it should matter. But, if it within the realm of America and consistent with the constitution then no problem.
Chuck Todd : So do you believe that Islam is consistent with the Constitution?
Ben Carson : No I do not, I do not, I would not advocate that we would put a Muslim in charge of this nation. I absolutely would not agree with that
Chuck Todd : And would you ever consider voting for a Muslim for Congres?
Ben Carson : Congress is a different strory. But it depends on who Muslim is and policies are. Just as it depends on what anybody else is. You know, if there is somebody who is of any faith, but they say things and their life that has been consistent with things that will elevate this nation and make it possible for anybody to succeed and bring peace and harmony, then I am with them. 
            Tanya jawab tersebut membuat resah masyarakat muslim yang saat ini telah berjumlah 2,8 juta jiwa di Amerika Serikat. Hal ini mendapatkan tanggapan dari seorang Palestina-Amerika, Zuhar Shaath merujuk pada pernyataan Carson dimana ia mengatakan, “cukup membuat masalah ketika seseorang yang ingin menjadi presiden membuat klaim seperti itu” (www.cnnindonesia.com, 2015). Namun kemudian hal ini segera diklarifikasi oleh tim kampanye Carson. Tidak berbeda dengan kandidat lain, Donald Trump yang sebelumnya kita kenal karena perwakilan DPR Indonesia menyatakan Indonesia akan mendukung Trump dalam pemilu. Trump menyerukan bahwa ia tidak memiliki kewajiban untuk mengoreksi para pendukungnya dan bahwa “persoalan yang lebih besar adalah Obama karena tengah melancarkan perang terhadap warga Kristen yang kebebasannya dalam menjalankan agama terancam” (www.salam-online.com, 2015).
            Hal ini terlihat cukup jelas posisi Islam yang terpinggirkan sebagai kelompok minoritas di Amerika Serikat. Sebagai negara pencetus demokrasi dan sebagai negara demokrasi terbesar, Amerika Serikat dalam hal ini dianggap gagal dalam implementasi demokrasi yaitu HAM. Para pemikir barat terdahulu sibuk untuk mengkritik pemahaman Islam yang pada dasarnya berbeda dengan barat karena memang diberikan pada waktu, peristiwa dan sumber yang ada. HAM menurut barat mengacu pada hak individu, sedangkan Islam mengacu pada hak individu dan publik yang berdasar pada Al-Quran dan Hadits.
Jika berdasar pada HAM yang telah diterapkan oleh barat, maka seharusnya warga negaranya mendapatkan hak yang sama. Para pemikir barat terlalu banyak mengkritik pemikiran islam yang dianggap tidak sesuai dengan perkembangan zaman atau yang dianggap tidak memanusiakan manusia. Namun pada dasarnya sesuai dengan yang terjadi dalam masyarakat, telah membuktikan bahwa apa yang dituduhkan para pemikir barat sebenarnya merupakan perlakuan yang mereka terapkan sendiri di negaranya terhadap minoritas. Kebebasan yang diterapkan barat membawa mereka dalam kebebasan yang merugikan dalam hak asasi.
Hak individu yang barat teriakkan tidak berlaku untuk masyarakat muslim di Amerika. Namun memang apa yang dilakukan oleh AS memang beralasan dimana mereka mengalami trauma terhadap peristiwa 11 September 2001. Namun jika dibandingkan dengan apa yang telah barat lakukan untuk muslim jauh lebih menyakiti masyarakat muslim dunia. Ketidak sukaan barat terhadap Islam dipraktekkan dengan aksi-aksi untuk melawan Islam. Hal inilah yang sebenarnya salah dilakukan oleh kelompok islam radikal dalam melakukan jihad yang membuat kesalahpahaman dengan barat belum terselesaikan hingga saat ini. Beberapa pengamat menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh barat saai ini merupakan tindakan dimana mereka merasa terancam akibat pertumbuhan islam yang semakin kuat.
Sumber
Amghar, Samir, et al., 2007. Euporean Islam Challenges For Public Policy and Society. Brussels: Centre For European Policy Studies
Salam Online, Jelang Pilpres 2016, Gerakan Anti-Islam di AS Makin Marak, dalam http://www.salam-online.com/2015/09/jelang-pilpres-20-gerakan-anti-islam-di-as-makin-marak.html, diakses pada tanggal 6 November 2015 pukul 08.41
The DC, Carson: Islam Is Not Consistent With The Constitutions, dalam http://dailycaller.com/2015/09/20/carson-islam-is-not-consistent-with-the-constitution-video/, diakses pada tanggal 7 November 2015 pukul 09.28
Viva News, Kisah Ahmed Mohamed dan Belum Pudarnya Islamphobia si AS, 2015. dalam  http://fokus.news.viva.co.id/news/read/675668-kisah-ahmed-mohamed-dan-belum-pudarnya-islamophobia-di-as, diakses pada 27 September 2015 pukul 22.14



Tidak ada komentar:

Posting Komentar